Cerpen "Budi telah Mati" Karya Mia Ismed




BUDI TELAH MATI


Namaku masih budi

 Dan kakakku tetap Ani

 Ibu ke pasar

 Dan bapak tetap bekerja di sawah

 Bagaimana dengan Budimu saat ini?

 Apakah punya kakak bernama serupa

 Juga ibu apakah tetap ke pasar atau sudah menjadi wanita karir karena zaman sudah emansipasi

 dan ayah, masihkah tetap ke sawah sedangkan lahan sudah berubah menjadi mall dan disulap menjadi perumahan mewah?

Masih ingatkah kawan dengan papan tulis hitam dengan tulisan kapur putih yang membuat kita sering kelilipan? Juga penggaris kayu yang diketuk tangan guru bertalu-talu saat kita belajar membaca di sekolah dasar tahun 80an?

Dengan lantang siswa mengikuti suara guru ”INI BUDI”

Begitu romantisnya suasana itu. Apakah budi masih tetap disebut di bangku seragam merah putih saat ini? Atau mungkin budi hanya tinggal nama yang ketinggalan zaman? Semua cetakan buku mengubahnya dengan nama Kelvin, Charles atau Johanson yang terdengar lebih britis?

Apa kabarnya budi hari ini?

Apakah zaman telah menghasutnya dengan popularitas?

Hingga budi benar-benar telah mati dan kuburannya tak terurus.

Karena saat ini kita terlalu akrab dengan angka-angka mati yang dielu-elukan sebagai bapak moyang keberhasilan pendidikan. Bukan pekerti juga kesantunan.

Sepertinya kita lebih akrab dengan les-les juga privat-privat untuk mengejar impian angka-angka, menciptakan rankrank dan kelas-kelas juara.

Bagaimana kabar ‘budi’mu hari ini?

Sudah cukupkah ibu pertiwi memberikan ASI. Kabarnya sekolahmu sering gonta ganti kurikulum dan menambahkan jam-jam ekstra

Bahkan guru-gurumu sering dihakimi atas nama HAM lantaran orang tuamu tak terima atas didikannya, kemarahannya, tegurannya. Tak hanya itu gurumu sering ‘dikencingi’ atas nama jabatan bapakmu yang tersohor itu.

Guru-gurumu sering dikambinghitamkan karena moralmu, kebodohanmu, juga nilai-nilaimu.

Barangkali kau terlalu dewasa memaknai dunia yang membesarkanmu kawan. Menjadi artis karbitan sosial media dengan mengumbar wajahmu yang tinggal separuh.

Lalu dengan santai orang tuamu menuntut gurugurumu, melaporkan gurugurumu, memarahinya meneriakinya “ADILI DAN PENJARAKAN!”

Apakah kau tahu kawan gurumu sedang mendidik tak sekedar mengajar.

Atau mungkin kita perlu piknik ke bumi sebelah

Agar ingatan kita tidak terlalu fanatic dengan HAM

Hingga kita benarbenar lupa ziarah di pusara Budi.

Karena budi telah mati. Kawan!


Kersik Putih, 19 Mei 2016.





10 komentar:

  1. Nama:Ahmad Nabil Maulana
    Kesimpulan:dunia semakin berkembang nya zaman letal mengubah semua nya dan seharus nya kita sebagai siswa siswi harus menghargai jasa seorang guru

    BalasHapus
  2. Nama saya angga stiawan dan arya cerpen ini menurut saya sangat bagus dan juga mengingatkan kita tentang budi pekerti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Arbani
      Kelas:IX B
      Benar sekali cerpen ini dapat memotivasi para remaja sekarang akan pentingnya Budi pekerti

      Hapus
  3. Nama :Adam Darmawan
    :Djuan Arundya Daafiq
    :Katong Irsandi

    Cerpen ini menceritakan tentang peradaban yang semakin modern dan kehidupan manusia yang berubah.
    Contoh : ibu Budi yang awalnya ibu rumah tangga menjadi wanita karir.

    BalasHapus
  4. Saya Enjelika isi cerpen diatas saya turut berduka atas meninggalnya bapak budi

    BalasHapus
  5. Turut berduka cita atas meninggalnya budi!cerpen ini bagus dan mendidik

    BalasHapus
  6. ASALAMMUALAIKUM NAMA SAYA PIRDAUS KELAS 8A MENURUT SAYA ANBK KEMARIN AGAK SUSAH

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini membahas cerpen..kenapa ANBK , sepertiny...salah tempat komen.he

      Hapus
  7. Assalamu'alaikum wr.wb
    Nama : Arbani
    Kelas : IX B
    Kesimpulan yang dapat kita ambil dalam cerpen Budi telah Mati adalah semakin berkembangnya zaman Orang-orang terlalu fanatic dengan HAM, sampai lupa bahwa semua guru itu sedang mendidik muridnya bukan hanya sekedar mengajar.

    Terima kasih buat cerpen tersebut karna sangat menginspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama:Arya
      Kelas:IXA
      Saya setuju jaman sekarang orang orang mulia lupa akan budi pekerti

      Hapus