Laounching Antologi Puisi Penawar Jiwa



Seniman asal Tanah Bumbu, Arif Rahman, mengapresiasi launching Penawar Jiwa. Ia mengatakan ada banyak pegiat sastra di Tanah Bumbu yang karyanya diakui, tetapi belum berhasil menerbitkan buku.

“Banyak penulis maupun sastrawan yang diakui kualitasnya, tapi belum bisa menerbitkan buku. Untuk menerbitkan buku ini adalah sesuatu yang sulit,” kata Komisioner KPU Tanah Bumbu itu.

Arif yang menjadi salah satu pendiri Majelis Hahahihi menilai menulis buku merupakan langkah untuk mencatat pemikiran. Hal itu merupakan sesuatu yang penting untuk mengetahui perkembangan pemikiran seseorang.

“Ini luar biasa dan akan menjadi motivasi bagi orang lain untuk menulis buku,” kata pria yang dikenal ramah dan humoris.

Jemaah Majelis Hahahihi lainnya, Aris Purnomo, memandang seseorang yang menulis buku merupakan langkah untuk menciptakan keabadian. Sebab, kata-kata yang tertulis akan tetap abadi meskipun penulisnya sudah tiada.

“Saya banyak membaca catatan-catatan sejarah yang diabadikan melalui babad. Banyak di antaranya juga merupakan syair-syair dan puisi. Dan itu abadi sampai hari ini,” kata pegiat seni lukis itu.

Setelah berhasil merilis buku perdananya, Diah NN yang tercatat sebagai Guru Bahasa Indonesia di SMPN 2 Batulicin dan SMPN 4 Batulicin merasa lega setelah merilis buku setebal 100 halaman.

“Perasaan tentu lega. Karena pengumpulan naskahnya sampai jadi buku perlu waktu 4 tahun,” kata ibu dua anak bernama asli Halimatus Sadiah.

Dalam proses kreatifnya, Diah NN dibantu oleh suaminya sendiri yang kebetulan juga bernama Arif Rahman.

Berbeda dengan Arif Rahman yang bekerja di KPU dan dikenal sebagai seniman musik dan Mamanda, Arif Rahman suami dari Diah NN bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Karang Bintang.

Melalui dorongan dan motivasi Arif inilah, Diah merasa terpacu dan ingin menulis buku tersebut. Puisi-puisi yang ditulis dikumpulkan dari periode 2016 sampai awal 2020.

“Sebenarnya kalau melihat beberapa teman yang juga berprofesi sebagai guru, bisa saja ini dibuat menjadi 2 buku. Tapi karena masukan dari suami saya, akhirnya dibuat jadi satu buku saja,” kata Diah.

Lalu, mengapa Diah memilih jumlah 97 puisi di bukunya?

Ternyata ada sejarah sendiri di baliknya. “Angka 97 itu bertepatan dengan tahun 1997 saat peristiwa kebakaran di Bati-bati. Waktu itu ada ratusan rumah yang terbakar, termasuk rumah saya,” ungkapnya.

Di buku tersebut, Diah bercerita tentang pemikiran pribadinya dari soal lingkungan, hubungan antarmanusia, dan antara manusia dengan Tuhannya.

Antologi Puisi Penawar Jiwa diterbitkan oleh Scripta Cendekia Banjarbaru dan diberi pengantar oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tanah Bumbu, Ir. Sartono.

“Terbitnya buku ini sangat mendukung program pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang sangat menggelorakan program literasi di semua jenjang pendidikan. Semoga bermanfaat untuk masyarakat terutama para guru dan siswa yang menggunakan buku ini dalam proses belajar mengajar,” kata Sartono.


Berita lengkap klik disini


Editor: Puja Mandela

Sumber artikel ini dari apahabar.com yang berjudul Antologi Penawar Jiwa dan Penantuan Diah NN selama 4 Tahun

1 komentar: